ahmad hudori. Diberdayakan oleh Blogger.
RSS
Tampilkan postingan dengan label Bisnis Propolis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bisnis Propolis. Tampilkan semua postingan

Manajemen

" PT. MELIA NATURE INDONESIA BERSAMA MENUJU SUKSES "



Cedrich Young


Pengalaman Kerja :

----------------------------------------------------------------------------------



1. Periode : 1998 hingga sekarang

Perusahaan : Mother Nature Health Products Pty Ltd ( Australia )

Jabatan : Chief Executive Officer



2. Periode : 1998 hingga sekarang

Perusahaan : Marco Polo Travel Co Ltd ( Canada )

Jabatan : Vice President



3. Periode : 1976 hingga sekarang

Perusahaan : Leadway Travel Pty Ltd ( Australia )

Jabatan : Chief Executive Officer



4. Periode : 1965 hingga 1970

Perusahaan : Chrysler Australia ; Australiasia Project Engineers ( Australia & USA )

Jabatan : Air Conditioning Engineer to Consulting Engineer

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Bedah MLM 1: Retail vs MLM

Rekan-rekan Surfer Internet yang bebahagia,
Setelah saya mempostingkan artikel tentang “Sejarah MLM”, jelas sudah bahwa MLM itu sesungguhnya hanya suatu sistem pemasaran. Alasan utamanya sama dengan sistem pemasaran lain (non-MLM) yaitu produsen ingin menyebar-luaskan produk yang dipasarkannya ke masyarakat (konsumen) seluas-luasnya. Pembedanya adalah bahwa pada sistem non-MLM, orang-orang pemasaran digaji atau diberi upah atau memperoleh fee penjualan dari produsen secara berlapis-lapis, membagi selisih harga konsumen dengan harga produsen (harga pabrik). Pada sistem MLM, perusahaan mempergunakan perusahaan lain yang bergerak dalam bidang pemasaran produk dan keuntungan perusahaan pemasaran itu diperoleh dari selisih harga produsen dengan harga konsumen akhir ditambah bonus ekstra setelah si perusahaan pemasaran memperoleh jumlah pelanggan tertentu. Perusahaan pemasaran itu selanjutnya menjadi perusahaan MLM.
Pada kasus pemasaran produk Nutrilite, jelas bahwa perusahaan memberi diskon kepada distributor (member MLM) sebesar 35% harga konsumen. Selain diskon perusahaan Nutrilite memberikan bonus ekstra bulanan jika jaringan distributor tersebut berhasil memperoleh 150 pelanggan baru. Kemudian setelah perusahaan ini menjadi full MLM, maka sistemnya menjadi sedikit mengalami modifikasi, yang membuat distributor “ujung tombak” tidak dapat memperoleh produk langsung ke perusahaan tetapi dia harus melalui distributor langsung (memiliki 25 distributor binaan), dan distributor langsung ini memperolehnya dari ‘leader’. Kadang-kadang leader ini pun masih ada perantara lagi yaitu sponsor. Oleh karena itu bentuk umum MLM adalah sebagai berikut:

Oleh karena diskon awal (produsen ke sponsor) adalah 35%, maka diskon (persentase keuntungan) kepada member dari leader ke bawah menjadi maksimal 21%. Ini berarti ada persentase lain dari harga konsumen yang menjadi bagian keuntungan untuk SPONSOR. Sponsor ini kadang-kadang berubah nama menjadi perusahaan SUPPORT SYSTEM, kadang-kadang pula menjadi perusahaan MLM itu sendiri. Oleh karena itu sebetulnya ada kekaburan definitif antara MLM konvensional dengan sistem PENJUALAN LANGSUNG. Yang langsung menjual ke konsumen bukan perusahaan MLM-nya, melainkan distributor langsung kepada distributor jaringannya (para downline-nya) setelah downline ini mempunyai janji transaksi dengan para konsumen.
Seharusnya, MLM itu sesuai dengan peraturan yang berlaku di Indonesia, yaitu Surat Ijin Penjualan Langsung (SIUPL) dari Kementerian Perdagangan, perusahaan  MLM memasarkan langsung kepada konsumen. Dalam hal ini konsumen dapat berupa konsumen lepas atau para member (distributor) perusahaan MLM itu sendiri. Jika ini yang dilakukan, maka perbandingan antara Retail Konvensional dengan MLM adalah seperti gambar berikut.

Perbandingan ini sangat mencerminkan proporsi harga konsumen pada produk. Dengan menggunakan harga pabrik (produsen) sama dengan 50% harga konsumen akhir, maka perbedaan harga dan keuntungan antara Retail Konvensional dengan MLM dapat digambarkan sebagai berikut.
   
Dengan gambar diatas, bahwa pada kedua sistem pemasaran, baik yang  konvensional maupun yang MLM, produsen memperoleh keuntungan yang sama sebesar 15% sebagai keuntungan pabrik. Perbedaan antara keduanya adalah pada sistem distribusi dan promosi, yang mencapai 50% harga yang dibayar oleh konsumen pada sistem RETAIL, sedangkan biaya distribusi dan promosi itu menjadi keuntungan bagi perusahaan MLM dan jaringannya.
Ilustrasi di atas juga menunjukkan bahwa sebenarnya HARGA suatu PRODUK baik yang dipasarkan melaui MLM atau RETAIL, seharusnya SAMA. Keuntungan produsen juga SAMA. Ini juga menggambarkan bahwa peringkat persentase bonus pada sistem MLM konvensional yang berkisar antara 21 hingga 25% itu adalah bonus untuk seluruh jaringan. Padahal seharusnya keuntungan itu dapat mencapai 50%. Lalu kemana yang 25 hingga 29% keuntungan? Kita tentunya menjadi paham dengan keberadaan perusahaan SUPPORT SYSTEM, bukan? Bayangkan saja Support System Company itu menjadi bagian PROMOSI dari bisnis retail, dan bonus MLM yang 21% adalah biaya DISTRIBUSI…:-) Padahal seharusnya biaya distribusi itu sama dengan 30%, bukan?
Nah sekarang dapatkah perusahaan support system itu diperkecil? Atau bahkan dihilangkan? Tentunya sangat BISA. Salah satu yang sudah membuktikan adalah PT Melia Nature Indonesia. Pertama perusahaan ini menghilangkan peringkat bonus, sehingga omzet yang sama dari distributor harus menghasilkan BONUS yang SAMA [silakan periksa di Bonus Plan Anda akan mendapati bahwa semua formula bonus akan menunjukkan omzet yang sama]. Kemudian Support System Company-nya bukan  perusahaan ‘mitra’ produsen, tetapi DISTRIBUTOR MITRA yang membentuk organisasi bisnis para LEADER atau para member senior yang sudah sukses memperoleh bonus pemasaran hingga jutaan rupiah sehari, membangun suatu Leader Commitee (LC) yang sangat berorientasi kepada MEMBER.
Hal yang perlu diingat dari operasional PT Melia Nature Indonesia ini adalah KOSEKUENSINYA dalam menerapkan PENJUALAN LANGSUNG. PT Melia Nature Indonesia hanya memiliki satu KANTOR, tidak memiliki satu pun CABANG perusahaan. TRANSAKSI hanya dapat dilakukan di KANTOR atau di AGEN (Stokis dan State Agency), secara langsung. Konsumen (atau calon member) menyerahkan uangnya ke petugas STOKIS dan langsung memperoleh PRODUK. DISTRIBUTOR (member) tugasnya HANYA mencatat secara administrasi dan menyerahkannya kepada petugas STOKIS. Dengan kata lain, SPONSOR tugasnya hanya MENGANTAR atau MEMBELIKAN produk untuk calon frontline-nya kepada STOKIS.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Bedah MLM 2: MLM tipe I

Bedah MLM  2: MLM tipe I

Saudara sekalian, pengunjung , sebagai seorang pelaku bisnis MLM, saya sudah cukup kenyang pengalaman dengan menjadi member beberapa MLM. MLM terakhir yang saya masuki memang PT Melia Nature Indonesia, yang rupanya menghentikan saya mempelajari sistem-sistem MLM yang beroperasi di Indonesia. MLM Tipe I yang akan saya ulas berikut, saya dapatkan Marketing Plan-nya dari situs internet seorang distributornya. Namun demikian, kecuali untuk pendaftaran, maka berbagai atribut kedistributoran saya ubah dan harga-harga transaksionalnya saya sesuaikan dengan harga member produk PT Melia Nature Indonesia, yaitu dengan harga tunggal Rp 550,000 sebagai basic sale distributor dan kelipatannya untuk menunjukkan jenis-jenis transaksi lainnya.
Pemeringkatan Distributor:
  1. Peringkat 1: peringkat seorang distributor yang hanya mendaftarkan diri tanpa melakukan transaksi (pembelian produk, selanjutnya saya sebut dengan istilah BP (Belanja Pribadi). Modal yang dikeluarkan Rp 85,000. Peringkat 1 ini tidak berhak atas bonus apa pun, meskipun dia sudah melakukan rekruitmen dan memperoleh dowline, kerena belum memiliki akumulasi BP dasar (Basic Sale) sebesar Rp 550,000 . Fasilitas atau kelengkapan yang diterima oleh peringkat 1 adalah: organizer folder, buku tentang company profile, lembaran tentang marketing plan, tata tertib distributor, lembaran tentang produk perusahaan, lembaran tentang business plan, kartu anggota dan VCD perusahaan.
  2. Peringkat 2:  Distributor peringkat 1 yang sudah mencapai akumulasi BS Rp 550,000 tetapi tidak mencapai Rp 2,200,000 otomatis naik jenjang menjadi distributor peringkat 2. Distributor peringkat 2 sudah berhak memperoleh bonus prestasi 5% dan bonus perkembangan 28%. Distributor peringkat 2 dapat langsung diperoleh dengan cara: mendaftar dengan Rp 85,000 dan berbelanja produk senilai Rp 550,000 tetapi kurang dari Rp 2,200,000.
  3. Peringkat 3: Distributor peringkat 2 yang belanjaannya sudah mencapai Rp 2,200,00 otomatis menjadi distributor peringkat 3. Peringkat ini juga dapat langsung diperoleh dengan cara, sewaktu mendaftarkan diri (Rp 85,000) langsung berbelanja produk senilai Rp 2,200,000.
  4. Peringkat 4: Mulai peringkat 4 keatas, kenaikan jenjang tidak lagi didasarkan pada BP, melainkan pada omzet group total (OGT). Peringkat 3 yang memiliki minimal 3 downline peringkat 3 dan OGT mencapai Rp 11,000,000 otomatis peringkatnya naik menjadi peringkat 4. Jika omzet downine jaringan kurang dari Rp 11,000,000; misanya hanya mencapai Rp 7,700,000, maka untuk memperoleh peringkat 4, distributor ybs harus memiliki BP minimal sebesar Rp 3,300,000 sebulan.
  5. Peringkat 5: persyaratan mirip dengan peringkat 4, yaitu distributor ybs. harus memiliki 3 dwonline beda kaki dengan peringkat 4 dengan OGT Rp 44,000,000 atau memiliki 2 downline peringkat 4 beda kaki dengan OGT Rp 88,000,000 sebulan.
  6. Peringkat 6: persyaratan mirip dengan peringkat 5, yaitu memiliki 3 downline peringkat 5 beda kaki dengan OGT Rp 162,500,000 atau 2 downline peringkat 5 beda kaki dengan OGT Rp 330,000,000 sebulan.
  7. Peringkat 7: memiliki 3 downline peringkat 6 beda kaki dengan OGT 550,000,000 atau 2 downline peringkat 6 beda kaki dengan OGT Rp 1,100,000,000 sebulan.
  8. Peringkat 6: Memiliki 3 downline peringkat 7 beda kaki dengan OGT Rp 2,2 M atau memiliki 2 downline peringkat 7 beda kaki dengan OGT Rp 4,4 M sebulan.
  9. Peringkat kehormatan 1: dicapai oleh distributor peringkat 8 dengan 3 downline peringkat 8 beda kaki dengan Belanja Wajib (Tutup Poin) Rp 1,100,000 sebulan. Dan peringkat-peringkat selanjutnya dengan tutup poin Rp 1,100,000 sebulan dan selisih OGT dari jaringan di luar jaringan downline yang sama peringkat (side volume) sebesar Rp 11,000,000 sebulan.
Perhitungan Bonus:
Perhitungan bonus riil cukup rumit, karena tinggi rendahnya peringkat distributor dan downline-nya bisa terjadi secara acak. Yang jelas jika peringkat downline menyamai atau melebihi peringkat upline, maka bonus selisih peringkat dari upline pada bulan berikutnya menjadi 0 dari jaringan kaki downline yang menyusul peringkat itu. Sebagai gambaran dapat disampaikan cotoh perolehan bonus distributor peringkat 3 menyeponsori distributor yang langsung bergabung sebagai peringkat 2 dengan berbelanja produk senilai Rp 1,100,000.  Hitungan bonusnya menjadi:
Bonus perkembangan: Rp 550,000 x 37% = Rp 203,500
Bonus prestasi: Rp 550,000 x 20% = Rp 110,000
Bonus total bulan ini: Rp 313,500
Jika bulan berikutnya downline peringkat 2 itu menutup peringkat 3 dengan belanja lagi 3 paket produk Rp 1,650,000 maka hitungan bonus bulan berikut itu menjadi:
Bonus dari bulan berjalan (belanja berikutnya):
Bonus belanja: Rp 1,650,000 x 20% = Rp 330,000
                               Rp 550,000 x 0% = Rp 0
Bonus bulan berjalan: Rp 330,000
Dapat kita lihat, meskipun OGT bulan berjalan ada peningkat Rp 550,000, bonus tidak meningkat banyak karena faktor pengali dari tambahan omzet itu adalah NOL-PERSEN (peringkat downline menjadi sama dengan peringkat upline). Selain itu ada hal yang memberatkan distributor, yaitu bonus diperhitungkan dalam waktu kerja satu bulan (30 hari kerja) tetapi dibayarkan pada tanggal 20 – 25 bulan berikutnya.
Pada peringkat-peringkat kehormatan ada kewajiban tutup poin (BS) sebesar Rp 1,100,000 (senilai 2 paket produk). Ini berarti setiap bulan distributor peringkat kehormatan harus belanja produk 2 paket. Tanpa melakukan belanja ini atau belanja hanya 1 paket, dia tidak akan menerima bonus sedikit pun walaupun omzet untuk perusahaan yang diciptakan oleh jaringannya sangat besar, minimal Rp 2 M.
Syarat side vulume pada peringkat kehormatan, memaksa seorang distributor dengan peringkat kehormatan harus melakukan perekrutan terus menerus. Selain itu dia kadang-kadang harus bersaing dengan downline, terutama downline yang sama peringkatnya. Kenapa? Karena jika seorang calon distributor berhasil direkrut oleh DOWNLINE yang SAMA PERINGKAT, baerarti peluang menambah SIDE VOLUME menjadi tertutup.
Dalam hal inilah sisi fairness dan transparansi bisnis penjualan langsung tidak dapat ditunjukkan oleh MLM Tipe I ini. Distributor juga tidak tahu pasti berapa bonus yang akan dia terima dari hasil kerja selama bulan berjalan, karena dia hanya akan tahu setelah bonus statement disampaikan pada tanggal 20 – 25 bulan berikutnya. Ini juga berarti selama 20 atau 25 hari kerja si distributor tidak tahu pasti penghasilannya sebagai pelaku bisnis MLM.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Bedah MLM 3: MLM Tipe II

MLM Konvensional
 
MLM Tipe II ini saya sebut sebagai MLM Konvensional, dengan rumusan umum: peringkat bonus tertinggi 21% dengan format jaringan MATAHARI (bukan piramida tetapi KERUCUT). Peringkat itu secara gradual dicapai dari peringkat terkecil yaitu 3%, 6%, 9%, 12%, 15%, 18% dan 21%. Peringkat 3% sering disebut sebagai TUTUP POIN, yaitu belanja pribadi dengan nilai tertentu dan memperoleh “diskon” sebesar 3%. Seperti janji saya di halaman Bedah MLM #1,  pada posting ini saya ingin memperbandingkan sistem matahari dengan sistem Binary yang diterapkan oleh PT Melia Nature Indonesia (Bedah MLM # 4). Untuk menyamakan harga produk, maka saya kenakan Basic Sale Rp 550,000 untuk mencapai peringkat 3% pada sistem matahari yang setara dengan bonus sponsor 18,2% untuk Binary MNI.
 Misalnya pada Sistem Matahari yang kita bahas ini berlaku ketentuan seperti pada gambar berikut:

Kita lihat yang diperhitungkan sebagai hasil transaksi adalah pengumpulan point value (PV) yang dalam hal ini untuk menyamakan dengan harga di PT Melia Nature Indonesia (harga 1 paket PROPOLIS atau 1 paket MELIA BIYANG)  saya berlakukan asumsi 1 PV = Rp 1,000. Persentase diskon terendah (TUTUP POIN) adalah 3% jika distributor berhasil mengumpulkan 550 PV dalam 1 bulan, dan tertinggi 21% yang jika omzet jaringan mencapai 17,600 PV atau lebih.
Gambar diatas menunjukkan seorang distributor baru yang berhasil mengumpulkan 550 PV, tetapi dia belum memiliki jaringan atau belum berhasil mengajak satu orang downline pun. Jika produk dia beli untuk dikonsumsi sendiri, maka dia harus mengeluarkan uang Rp 550,000 dan memperoleh diskon Rp 16,500. Jika dia berhasil menjual semua belanjaannya kepada konsumen bebas (bukan member), maka dia memperoleh keuntungan eceran Rp 165,000. Dia dapat meningkatkan diskonnya jika dalam sebulan berhasil belanja dan menjual ulang produk minimal empat kali nilai tutup poin dalam sebulan, yaitu perputaran uang sebesar Rp 2,200,000 sehingga dia akan mencapai peringkat 9% (diskon pribadi mencapai  Rp 49,500) dan berhasil mengumpulkan keuntungan eceran 4 x Rp 165,000 = Rp 660,000 sehingga penghasilan total Rp 709,000 dari modal yang berputar 4 kali Rp 550,000. Keuntungan bersihnya menjadi Rp 159,000 sebulan!
Sekarang bagaimana jika dia berhasil memperoleh downline, sehingga omzet jaringannya mengantarkan dia mencapai peringkat diskon 6, 12 dan 21%? Ilustrasinya adalah seperti pada 3 ulasan gambar berikut:
 1. peringkat 6 %


Untuk mencapai peringkat 6% maka dalam 1 bulan melakukan kegiatan, distributor harus belanja Rp 550,000 untuk tutup poin dan menjual ulang seluruhnya, sehingga memperoleh diskon 6% senilai Rp 33,000. Dia harus memperoleh 3 downline yang juga melakukan tutup poin Rp 550,000, maka dia akan memperoleh tambahan diskon selisih peringkat senilai Rp 49,000. Produk TUTUP POIN-nya juga harus laku semua terjual, sehingga memperoleh keuntungan eceran Rp 165,000. Penghasilan totalnya senilai Rp 247,500. Berarti kegiatannya selama sebulan masih tekor Rp 550,000 – Rp 247,000 = Rp 302,500. Kesimpulannya distributor 6% masih merugi 55% dari TUTUP POIN, padahal dia dan jaringannya sudah menciptakan OMZET bagi perusahaan senilai Rp 2,200,000.   2. Peringkat 12%
 
Pada gambar diatas, peringkat 12% dicapai distributor dengan TUTUP POIN Rp 550,000, kemudian berhasil memperoleh downline 8 orang yang juga melakukan tutup poin Rp 550,000, sehingga omzet jaringannya sebesar Rp 4,950,000. Seperti halnya dengan hitungan 6%, maka penghasilan total distributor 12% adalah Rp 627,500. Artinya Distriutor 12% tersebut harus berhasil menjual seluruh produk TUTUP POIN-nya sehingga dia untung Rp 77,500 selama sebulan (14.1% TUTUP POIN) dan jika dibandingkan dengan OMZET jaringan keuntungan itu hanya menjadi 1,56%, suatu nilai yang cukup jauh dengan persen peringkat bonusnya yang 12%.
 3. Peringkat Maksimal 21%
 
Gambar diatas mengilustrasikan distributor yang mencapai peringkat diskon maksimal 21% karena berhasil memperoleh 6 downlines (A ~ F) kemudian masing-masing dowline memperoleh 4 downline (1 ~ 4) dan downline lapis kedua itu masing-masing memperoleh 2 downlines. Dia dan seluruh downline melakukan TUTUP POIN Rp 550,000 sehingga omzet jaringannya (79 orang termasuk dia) mencapai Rp 43,450,000. Dengan perhitungan yang sama dengan peringkat 6%, maka distributor itu harus menjual seluruh produk TUTUTUP POIN-nya kepada konsumen bebas, sehingga memperoleh penghasilan total Rp 2,953,500 sebulan. Nilai keuntungannya sebesar Rp 2,403,500 atau sebesar 457% TUTUP POIN tetapi hanya 5.53% OMZET JARINGAN. Secara sederhana dengan hitungan kasar, perusahaan mengantongi keuntungan sebesar 21% – 5.53% = 15.47 % dari OMZET jaringan
Jika keenam downline juga mencapai peringkat 21%, maka keuntungannya menjadi terjun bebas tinggal Rp 379,500, karena nilai hitungan terakhir menjadi (21% – 21%) x 78 x Rp 550,000 =  Rp 0. Maka mau tidak mau si distributor harus mencari downline baru yang TUTUP POIN. Seandainya tidak ada yang tutup poin, maka betapa pun ukuran jaringannya, bonus juga menjadi 0.  Seandainya produk tutup poin tidak laku? Maka dia akan menjadi GUDANG PRODUK. Inilah paradoks dalam MLM tipe II ini…:-(.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Bedah MLM type 4: MLM Mutakhir

MLM Binary PT MNI
Telah disampaikan di bonus Plan bahwa PT MNI adalah perusahaan MLM yang tidak memberlakukan TUTUP POIN dan PERINGKAT BONUS. Belanja ulang terjadi otomatis jika distributor mempunyai BONUS HARIAN, yang dibatasi nilai maksimalnya (Rp 750,000) bukan nilai minimal dan bukan merupakan syarat cairnya bonus, tetapi otomatis terjadi jika distributor memiliki bonus harian berapa pun nilainya. Dasar hitungan jaringan bukan jumlah orang, melainkan jumlah produk yang ditransaksikan oleh jaringan. Dengan demikian jaringan secara progressive berkembang sesuai dengan volume transaksi dalam jaringan. Perhitungan bonus dilakukan sekali jadi dan dan secara HARIAN. Dengan demikian ketentuannya menjadi sebagai berikut:

Seseorang yang bergabung, otomatis melakukan belanja produk minimal 1 paket. Jika diasumsikan distributor bergabung dengan 1 paket, maka pada level 0 (Start) member jaringan baru dia sendiri, alias 1 orang. Maka uang Rp 550,000 benar-benar dia tukarkan dengan PRODUK. Jadi produk harus sama nilainya dengan uang yang dikeluarkan oleh distributor baru. Ambil contoh distributor sukses yang berhasil memperoleh 78 downline (sama dengan contoh pada sistem matahari) itu adalah ANDA. 
Dengan berbelanja Rp 550,000 ANDA tidak rugi, karena jika sama kasusnya dengan sistem matahari yang tadi, maka ANDA akan memperoleh keuntungan eceran sebesar 30 – 45% harga member. Jika ANDA segera berhasil memperoleh 2 downline A dan B, maka sehari setelah member baru ANDA daftarkan ke perusahaan via STOKIS, ANDA akan menerima transfer cash Rp 135,000 (70% bonus dikurangi Rp 5,000 biaya bank) dan tabungan produk senilai Rp 60,000, dengan ilustrasi sebagai berikut (nilai total Rp 200,000).

Pada waktu itu, omzet jaringan ANDA hanya Rp 1,100,000 yang kesemuanya dikeluarkan oleh downline A dan B. ANDA sebagai sponsor A dan B tidak mengeluarkan uang sama sekali. Jadi keuntungan benar-benar TIDAK HINGGA PERSEN…:-), Rp 200,000/Rp 0 x 100%. Jika ANDA memperoleh 2 downline lagi (yang pada sistem matahari mencapai 6%)  maka ilustrasinya sebagai berikut.



Pada HARI itu omzet jaringan ANDA tetap Rp 1,100,000 tetapi ANDA memperoleh bonus sponsor Rp 200,000 dan bonus leadership Rp 170,000 dengan PENGELUARAN NOL RUPIAH. Perkembangan selanjutnya dengan kegiatan ANDA mensponsori hingga 6 downline seperti pada contoh sistem Matahari, dibagi menjadi 3 kanan dan 3 kiri dan terjadi bertahap, lalu ke-6 downline berkembang dengan duplikasi persis seperti ANDA, maka dapat diilustrasikan proses perkembangan jaringan dan bonus ANDA dengan gambar berikut.

OMZET total jaringan ANDA memang mencapai Rp 52,800,000, lebih besar dibanding contoh MLM Tipe II, tetapi ANDA hanya mengeluarkan uang untuk belanja produk sekali pada waktu bergabung Rp 550,000 dengan perolehan bonus sponsor total Rp 600,000 (modal langsung kembali) dan bonus leadership senilai Rp 4,090,000.
INGAT, periodenya tidak harus sebulan, tetapi dapat terjadi SETIAP HARI. Rasanya mudah bukan, mencari downline 2 orang sehari… Tentunya ANDA semua tidak hanya memiliki 2 orang teman, kan?
Maka, mari silakan saya undang ANDA untuk segera bergabung. Sistem jelas sederhana, transparan dan dapat diakses di website perusahaan pada ruang anggota ANDA

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Pengikut