ahmad hudori. Diberdayakan oleh Blogger.
RSS
Tampilkan postingan dengan label Korupsi dan Koruptor. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Korupsi dan Koruptor. Tampilkan semua postingan

Belajar Dari Roti Umar bin Abdul Aziz

Indonesia yang konon negerinya gemah ripah loh jinawi, sampai saat ini  rakyatnya masih banyak yang miskin. Yang kaya semakin kaya dan yang miskin tetap dibawah garis kemiskinan. Tengok saja, kehidupan para pejabat yang diberi kepercayaan untuk mengurus negara, baru sebentar menjabat kekayaannya langsung membludak naik. Ujung-ujungnya mereka terjerat kasus korupsi. Lalu, siapa yang salah?

Taufik Ismail pernah mengatakan dalam seminarnya di Depok baru-baru ini. Sastrawan ini ini mengatakan,”Kita butuh dua abab untuk bisa mengentaskan kasus korupsi  di Indonesia,” ujarnya. Taufik Ismail melihat generasi se-usianya sulit diperbaiki. Dari kalangan bawah hingga masyarakat atas seakan-akan telah menjamur penyakit yang namanya korupsi ini.

Seharusnya para pejabat yang memegang amanah rakyat, meneladani kehidupan-kehidupan pemimpin besar umat. Mereka benar-benar takut jika menyelewenagkan amanah yang telah diberikan kepercayaan kepadannya. Jabatan adalah amanah yang harus dipertangungjawabkan di hadapan masyarakat dan Allah Subhanallahhu wata’ala.

Sebagaimana diterangkan dalam hadits Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam, “Seorang imam (khalifah) adalah pemelihara dan pengatur urusan (rakyat), dan dia akan diminta pertanggungjawabannya terhadap rakyatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Roti Umar bin Abdul Aziz

Dalam masalah harta, para pejabat pun bisa mengambil contoh khalifah Umar bin Abdul Aziz dari kisah sepotong rotinya. Seorang khilafah yang tidak mengkorup harta milik rakyatnya untuk kepentingan pribadi atau keluarganya. Tidak mau menilep uang dari rakyatnya. Ia hidup sederhana, ala kadarnya.

Alkisah, tatkala  Umar Bin Abdul Aziz masih menjabat  sebagai khalifah, suatu hari ia pernah  disediakan makanan oleh Istrinya. Sepotong roti yang masih hangat,  harum dan wangi. Terlihat begitu lezat hingga membangkitkan selera.

Sang Khalifah merasa heran dan bertanya pada Istrinya: “Wahai Istriku dari mana kau memperoleh roti yang harum dan tampak lezat ini”?

Istrinya menjawab, “Ya Amirul Mukminin itu buatanku sendiri, aku sengaja membuatkan ini hanya untuk menyenangkan hatimu yang setiap hari selalu sibuk dengan urusan negara dan umat.

“Berapa uang yang kamu perlukan untuk membuat roti seperti ini” tanya Khalifah.

“Hanya tiga setengah dirham saja , kenapa memangnya” jawab sang istri

“Aku perlu tahu asal usul makanan dan minuman yang akan masuk ke dalam perutku ini, agar aku bisa mempertanggungjawabkannya di hadapan Allah SWT nanti, ” jawab Khalifah, dan bertanya lagi  “Terus uang yang 3,5 dirham itu kau dapatkan dari mana”?

“Uang itu saya dapatkan dari hasil penyisihan setengah dirham tiap hari dari uang belanja harian rumah tangga kita yang selalu kau berikan kepadaku, jadi dalam seminggu terkumpulah 3.5 dirham dan itu cukup untuk membuat roti  seperti ini yang halalan toyyiban,” jawab istrinya.

“Baiklah kalau begitu . Saya percaya bahwa asal usul roti ini halal dan bersih, “ kata Khalifah yang lalu menambahkan. “Berarti kebutuhan biaya harian rumah tangga kita harus dikurangi setengah dirham, agar tak mendapat kelebihan yang membuat kita mampu memakan roti yang lezat atas tanggungan umat. “

Kemudian Khalifah memanggil Bendahara Baitulmaal (Kas Negara) dan meminta agar uang belanja harian untuk rumah tangga Khalifah dikurangi setengah dirham. Dan Khalifah berkata kepada istrinya, “Saya akan berusaha mengganti harga roti ini agar hati dan perut saya tenang dari gangguan perasaan, karena telah memakan harta umat demi kepentingan pribadi. “

Itulah kisah Umar bin Abdul Aziz dengan sepotong rotinya. Kezuhudanya tidak kalah dengan kakeknya, Umar bin khatab yang selalu memperhatikan keadaan rakyatnya. Kakeknya semasa sabagai khalifah pernah mengatakan, “Seandainya ada seekor keledai mati di Syam lantaran ketiadaan makanan, niscaya Umar akan diminta pertanggungjawabanya di akherat.”

Sepatutnya kisah sepotong roti Umar bin Abdul Aziz di atas menjadi pelajaran penting untuk kita semua. Teladan bukan untuk para pejabat saja, melainkan kita semua bisa mengambil hikmah didalamnya. Ia begitu hati-hati terhadap harta yang ia makan setiap harinya. Menanyakan asal usulya, hingga jelas sumber cara memperolehnya. Karena harta ini, di akherat nanti akan ditanyakan 2 pertanyaan. Dari mana sumbernya? dan kemana harta itu akan dipergunakan?. Semoga  kita semua bisa menirunya.
Oleh: Nurhadi
[www.hidayatullah.com]

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Sungguh Malang di Malang - Pekerja SPBU di gaji Rp 250 ribu Per Bulan

Assalamualaikum Sobat,,,Kali ini ada berita penting seputar dunia perbudakan gan,,,,
Malang: Seorang pekerja Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Malang, Jawa Timur, jatuh pingsan saat menyampaikan keluhan kepada wakil rakyat di gedung DPRD Kota Malang. Sang pekerja mengeluh, hanya digaji Rp 250 ribu per bulan dengan jam kerja minimal 16 jam tiap harinya.

Panji, salah satu pekerja SPBU pingsan, saat menyampaikan keluhan di hadapan anggota DPRD Kota Malang. Panji tak kuat menahan kesedihan, saat menyampaikan keresahannya karena hanya digaji Rp 250 ribu tiap bulan.

Bersama 10 rekannya, Panji mengaku, setiap bulan dipaksa menandatangani slip gaji sebesar Rp 750 ribu per bulan, meski yang diterima hanya Rp 250 ribu. Dengan gaji sekecil itu, setiap pekerja harus bekerja selama 16 jam setiap harinya. Rata-rata pekerja sudah bekerja selama 15 hingga 33 tahun di SPBU.

Karena ada yang pingsan. dialog pekerja dengan Komisi A DPRD Kota Malang, bubar. Namun, anggota dewan berjanji akan menindaklanjuti aspirasi para pekerja SPBU. (RIE)

Metrotvnews.com,

Waduh kemarin pucuk pimpinan yang bocor, sekarang pada ikut-ikutan semua pada memangkas Hak Wong Cilik. Buat agan-agan kalau sudah sukses harus saling berbagi ya,,,!!!!





  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Ketika Wakil Rakyat minta Rumah Kontrakan 200 juta-an

Bersama berbagi meraih Investasi abadi. Kali ini saya mau Komentarin KATANYA ada wakil Rakyat yang minta Rumah Kontrakan,,Udah pada tau belum ni agan-agan????moga yang baca postingan kali ini pada mikir ni tentang pemimpin2 kite yang bocor semua!!!,dan paham cara mencari Pemimpin yang bener.

"Permintaan dana Rumah Aspirasi Rp 200 juta per-anggota terlalu berlebihan. Bagi saya, hal itu sudah sepatutnya menjadi kewajiban anggota dan masing-masing parpol terhadap konstituennya tanpa membebani negara," ujar-Bambang Soesatyo, partai Golkar.


Pebisnis yang sukses adalah yang berhasil menomorsatukan konsumen. "Konsumen adalah raja," demikian istilah para pedagang dan prinsip pemasaran. Pemimpin sejati, adalah yang memiliki keterampilan melayani rakyatnya. Guru yang baik adalah guru yang selalu ngopeni (merawat, red) dan memudahkan murid menemukan kebenaran (ba'atsani mu'alliman muyassaran). Orangtua yang baik adalah yang siap berkorban untuk anaknya. Bukan mengorbankan anaknya untuk kepentingan dirinya. Yang jelas, profesi apapun disyaratkan adanya kualitas pengabdian dan pelayanan.



Dicari, Teladan
Negeri ini sangat memerlukan pemimpin yang bukan saja kapabel, tapi juga kredibel. Sebab, –sekarang dan ke depan- kita berada di sebuah dunia yang makin sarat tantangan. Hal yang demikian, jelas tak memadai jika negeri ini tak dikelola oleh rezim kredibel, yang didukung penuh oleh rakyat.


Kredibilitas terkait dengan –antara lain- keteladanan. Kredibilitas bergantung kepada satunya kata dan perbuatan. Sayang, justru di aspek ini, performa rata-rata pemimpin kita menyedihkan.
Negeri ini, miskin pemimpin berkategori teladan,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,Jangan lupa peristiwa masa lalu,,Pejabat dengan mobil Mewahnya,,,,!!!! klik disini !!!!!!!


Sekian sekilas pandang saya yang selama ini terpendam sebagai wong Cilik yang senantiasa tertindas. Kisah lain ada lagi ini gan, kisah seorang Pegawai SPBU yang gajinya cuma 250.000. yang belum tau,,tanya dengan mbah google, atau simak postingan saya selanjutnya.



  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Pengikut