ahmad hudori. Diberdayakan oleh Blogger.
RSS
Tampilkan postingan dengan label Tauladan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tauladan. Tampilkan semua postingan

USWAH - Yang Bisa Menuntun ke Surga

Mereka lebih dahulu masuk surga, dan hisab mereka di akhirat lebih ringan dibanding lainnya


Hidayatullah.com--Usai bincang-bincang di salah satu radio di Surabaya, Bu Eep dan Zainab siap menjemputku dengan motor ke Kecamatan Medokan, Surabaya.  Di pagi yang masih berkabut itu, aku melewati sebuah empang luas bersebelahan dengan gedung  bertuliskan, Gedung Yayasan Kasih.

Di sepanjang jalan kiri dan kanan nampak sederetan rumah-rumah gubuk, petak kecil dengan berdinding triplek (gedek), dan seng  diselimuti debu dan nampak kusam. Tak lupa plang-plang bertuliskan jasa ahli pijat atau ahli bangunan terpampang berjejer.

Tepat di sebuah tikungan jalan, nampak sebuah bangunan semi permanen dengan halaman luas berisikan tumpukan sampah yang sudah diikat. Gunungan sampah serta susunan karung goni memenuhi halaman ini.

"Ini tempatnya para pumulung ya bu," tanyaku. "Iya Teh, para pemulung ini menyetor ke sini lalu mereka pilih dan pilah lalu diikat, nanti  dijual ke penampungnya," ujar bu Aep.

Momen itu tak kusia-siakan untuk menjepret dan mengambil gambar.

Kami tiba di Medokan tepat pada waktunya. Sesampai di salah satu rumah paling bagus  (untuk kawasan kumuh), beberapa ibu telah menanti kedatangan kami. Air minum kemasan plastik dan jajanan kecil ikut menanti disantap. Sambil berkenalan sejenak, aku menikmati kopi tubruk.  Usai menyeruput kopi tubruk yang ikut menyegarkan badanku, kami sepakat jalan-jalan di sekitar Kecamatan Medokan untuk melihat dari dekat kehidupan penduduk di bagian Kota Surabaya ini.

Rumah tinggal mereka boleh dibilang hanyalah rumah petak atau gubuk terbuat dari kayu, papan atau bambu. Sebagian ditambal dengan seng hasil dari memulung. Ada  kursi jok mobil yang sudah lusuh dan nampak busanya telah habis.

Seorang ibu muda yang tengah menggendong anaknya yang balita, senyum menyambut kami. Di halaman samping ia tengah menanak nasi dengan tungku api menggunakan kayu bakar. 

Kami singgah ke salah satu rumah keluarga untuk menjenguk salah seorang keluarganya yang tengah berbaring sakit. Ia sedang  tergolek di kasur tua sembari mengerang kesakitan, mungkin sedang sakit demam. “Mau ke dokter, tidak ada uang,“ katanya. Belum lagi harus menebus obat. Rumahnya sangat pengap, gelap, dan tidak menyehatkan.

Lantainya dibuat dari sisa pecahan keramik. Warna-warni layaknya mozaik. Di dapur ada bak dan ember besar hitam berisi air yang tengah diendapkan, yang nantinya mereka gunakan untuk masak atau mandi. Tungku api dengan kayu bakar tengah menyala. Kayu api itulah yang mereka gunakan, sebagai gantinya kompor minyak tanah. Dari rumah itu, kami berpindah mengunjungi rumah lain.

Pemandangan tungku dengan menggunakan kayu bakar seperti ini hampir ada di setiap rumah. Praktis, bahan bakar murah sebagai ganti  minyak tanah yang mahal.

Kami singgah di rumah lain, rumah Bu Sri. Usai sholat, kami berbincang sambil menikmati pisang rebus. Bu Sri bercerita tentang kegiatan di musholla membina anak-anak yang jumlahnya sekitar lima puluh. Mereka merasa bahagia karena di desa itu sudah ada mushola walaupun tidak sempurna dan belum rampung. Mereka betul-betul memanfaatkan mushola tersebut setiap harinya, diisi dengan berbagai kegiatan sosial dan pengajian, utamanya kegiatan TPA bagi anak-anak yang dilakukan ba'da sholat Ashar. Menurut mereka, anak-anak harus mereka selamatkan aqidahnya.

Dengan bangga mereka mengatakan bahwa anak-anak sudah bisa menghafal Asmaul Husna, sifat-sifat dan nama-nama Allah. Mereka yakin dengan pengajian TPA dan hafalan Asmaul Husna bisa membentengi aqidah anak-anak.

"Jadi ibu sudah lihat sendiri ya kampung kami, ya seperti itu," ujar salah seorang ibu menjelaskan asal-muasal kampung itu serta kondisi penduduknya. "Konon, dulunya  kawasan ini kosong saja, lalu kami diangkut ke sini. Eh dibuang ke sini deh," ujarnya. Saya agak terkejut mendengar kata itu.

"Ya kami adalah orang-orang yang terpinggirkan bu. Kami memang dulunya tinggal di pinggiran kota besar, lalu diangkut dengan truk terus dilepas di sini," katanya.  "Ini karena kami dianggap merusak kecantikan kota. Jadi kami memang miskin sekali ibu, sangat miskin."

Ada sekitar  75 KK  di tempat ini. Ada tukang bangunan, tukang batu, pembantu rumah tangga, tukang mengumpulkan sampah, dan jualan jamu. Tapi umumnya para pemulung.

Agenda tersembunyi
Kemiskinan, kekumuhan, dan keterbatasan ini, nampaknya ikut mengundang banyak pihak mengambil keuntungan. Seorang ibu bercerita mengenai berbagai hal, dari air minum, rumah yang pengap, kesulitan minyak tanah, dan banyaknya organisasi yang datang mengunjungi.

"Di kampung kami air susah bu. Kami pernah dapat tawaran dari salah satu bapak dan ada beberapa keluarga yang begitu giat membagikan macam-macam. Di antaranya alat untuk membersihkan air, tapi kami tolak saja, habis ada syaratnya,"� ujar bu Sri. 

"Pokoknya tak nggendoli (pertahankan, red) aqidahku, wis gitu aja," ujar bu Timah lugas. "Biarin aku miskin dan aku selalu bilang sama suamiku supaya ndak terbujuk."

Timah mengaku, pendapatan suaminya tergolong sedikit.  "Kalau yang lain bisa menghasilkan Rp 30  ribu sehari, suami saya cuma menghasilkan Rp 125 ribu seminggu," ujar wanita yang  memiliki tiga orang anak anak ini. Suaminya bekerja sebagai penjaga perahu penyebrangan.  

"Ndak ada orang lain mau kerja malam dengan duit kecil kaya gitu bu. Terus kalau siang sudah ndak bisa kerja apa-apa karena semalaman dia jaga perahu, jadi sudah kecapekan," tambahnya.

Kepalaku berhitung, dari total 125 ribu seminggu itu, berapa seharinya? Lalu bagaimana mereka bisa menafkahi keluarga yang berjumlah 5 kepala?

"Tapi Alhamdulillah ibu kami tetap bersyukur akan semua rejeki yang kami terima. Walau keluarga kami mesakat (miskin), kami tidak pernah mau nerima bantuan apapun, apalagi ada persyaratan dan harus tanda-tangan perjanjian untuk ganti agama," tambahnya lagi.

"Tapi saya ndak pernah minder dan berkecil hati ditakdirnya sebagai orang miskin. Apalagi menyesali nasib lho bu, ujar Timah sambil membenahi jilbabnya yang berwarna merah jambu.

Seolah berusaha membesarkan hati mereka, sesungguhnya aku ikut tersentak mendengar pernyataan Timah yang lugu dan rendah hati ini.  Mendengar pernyataan Timah aku ingat sebuah hadist Nabi yang berbunyi,  "Cintailah kaum fakir dan duduklah bersama mereka." (Riwayat Al-Hakim An-Nisaburi).

Kepadanya, aku ceritakan beberapa ayat yang menyatakan rasa cinta Allah SWT pada para fakir-miskin dan anak yatim. "Ya tentu saja orang miskin paling sabar,  dan selalu ingat Allah," ujarku.

Aku membacakan mereka surat Al Kahfi 28. "Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas."

"Ibu-ibu jangan merasa rendah dan kerdil hati karena miskin. Bisa jadi di depan pandangan manusia kita rendah, namun dipandangan Allah kita terhormat selama kita menjadi hambaNya yang taqwa,“ ujarku disambut wajah mereka dengan berbinar-binar.

"Teruskan bu, baru ini saya mendengar semacam ini," ujar mereka.

Aku menceritakan kisah kecintaan Allah dan bagaimana para fakir-miskin dimuliakan di hari pembalasan.

Saya baca cuplikan hadist yang diriwayatkan Alhasan. Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: "Pada hari kiamat kelak akan dihadapkan seorang hamba, lalu Allah s.w.t. berkata lunak kepadanya sebagaimana seorang yang minta maaf kepada kawannya, maka Allah s.w.t. berfirman: "Demi kemuliaan dan kebesaranKu, Aku tidak menyingkirkan dunia daripadamu karena hinamu dalam pandanganKu, tetapi karena Aku telah menyediakan untukmu kemuliaan dan karunia. Keluarlah hai hambaKu ke barisan-barisan itu dan lihatlah siapa yang dahulu pernah memberi makanan atau pakaiannya kepadamu dengan ikhlas karenaKu." Maka peganglah tangannya dan ia hakmu, maka berjalanlah ia di tengah-tengah manusia yang sedang tenggelam dalam peluhnya, lalu melihat orang yang dahulu pernah berbuat baik kepadanya, lalu dipegang tangannya dan dimasukkan ke surga."
Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: "Perbanyaklah kenalan orang-orang fakir miskin dan berbudilah kepada mereka karena mereka kelak akan mendapat kekuasaan." Sahabat bertanya: "Apakah kekuasaan mereka, ya Rasulullah?" Jawab Nabi Muhammad s.a.w.: "Bila tiba hari kiamat maka dikatakan kepada mereka: "Perhatikan siapa yang dahulu pernah memberimu makanan atau minuman seteguk atau sehelai baju, maka peganglah tangannya dan tuntunlah ke surga."
Abul Laits berkata: "Ketahuilah bahwa bagi orang fakir miskin itu akan mendapat lima kemuliaan yaitu: Pahala amalnya lebih dari pahala amal orang-orang yang kaya dalam shalat, sedekah dan lain-lainnya.   Mereka lebih dahulu masuk surga, dan hisab mereka di akhirat lebih ringan dibanding yang lainnya.
"Ibu-ibu akan menuntun orang-orang yang pernah memberi sedekah berupa makan dan  minum, serta baju, dan akan menuntun mereka ke surga. Itu sangat luar biasa, ujarku memberi motivasi.

"Amien... amien ya Allah," jawab mereka serempak. Tak terasa air mata mereka dan air mataku ikut menetes, mungkin terharu dan berbaur rasa bahagia. Bu Timah memelukku sangat erat penuh haru. Aku pun ikut terharu menangis.

Akhirnya aku pamit dan kami berpisah.   "Ya Allah semoga mereka, orang-orang fakir nan miskin yang pernah kita tolong dengan sedekah, kelak akan menolong dan menuntun kita ke surgaMu."  [Al Shahida, London, 11 Januari 2010/www.hidayatullah.com]

Kirimkan kisah dan cerita perjalanan spiritual Anda ke redaksi-online@hidayatullah.com This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it . Tiap kisah Anda akan banyak bermanfaat bagi yang lain
 

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

USWAH - “Keteladanan Imam Hanafy dalam Soal Jabatan”



Adalah Imam Hananfy, sosok yang tidak tergoda oleh kekuasaan dan rela menerima hukuman ketimbang memegang jabatan tinggi. Baca CAP Adian Husaini ke-274




Oleh: Dr. Adian Husaini

Di tengah carut-marutnya dunia hukum dan kepemimpinan di negeri kita, ada baiknya kita menengok kembali kisah kehidupan Imam Abu Hanifah atau Imam Hanafy, seorang ulama besar, yang sangat terkenal ketinggian ilmu dan akhlaknya. Imam Abu Hanifah lahir di Kufah pada 80 Hijriah (699 M) dan wafat pada tahun 150 Hijriah (767 M), tepat saat Imam al-Syafii lahir. Sering dikatakan, Imam yang satu pergi, datang Imam yang lain. Nama asli beliau sejak kecil adalah Nu’man bin Tsabit bin Zautha bin Mah.

Sejak kecil, Imam Abu Hanifah hidup di tengah keluarga pedagang. Setelah dikenal sebagai seorang yang alim sekali pun, dia juga menjalankan perniagaan. Kehidupan Imam Hanafy pada masa hidupnya mengetahui peristiwa pergantian Kepala Negara dari tangan banu Umayyah ke tangan banu Abbasiyah. Beliau dilahirkan pada masa pemerintahan Abdul-Malik bin Marwan; kemudian ketika tahun 127 Hijriah, Kepala Negara jatuh di tangan Marwan bin Muhammad Al-Ja’dy (dari Banu Umayyah yang ke 14). Dan inilah akhir pemerintahan Banu Umayyah.

Ketika itu, Gubernur di Iraq selaku wakil Kepala Negara dijabat oleh Yazid bin Amr bin Hurairah Al Fazzary. Selaku Gubernur, ia berhak mengangkat seseorang yang di pilihya untuk menjabat suatu jabatan tinggi di bawah kekuasaannya. Pada suatu saat Imam Hanafy telah dipilih dan ditunjuk menjadi Kepala Urusan Perbendaharaan Negara (Baiitul-Mal). Tetapi pengangkatan itu ditolak oleh Abu Hanifah. Sampai berulang-kali Gubernur Yazid menawarkan pangkat yang tinggi itu kepada beliau, namun tetap ditolak.

Pada lain saat, Gubernur Yazid menawarkan lagi pangkat Qadli (penghulu negara) kepada Imam Hanafy. Tetapi beliau bersikap menolak tawaran itu. Melihat sikap Imam Hanafy, Gubernur mulai tidak senang. Mulailah muncul kecurigaan terhadap Sang Imam. Gerak-geriknya mulai diamati. Kemudian pada suatu hari, Sang Imam mulai diancam hukum cambuk dan penjara oleh penguasa. Tetapi sewaktu mendengar ancaman tersebut,

Sang Imam hanya menjawab: “Demi Allah, aku tidak akan mengerjakan jabatan yang ditawarkan kepadaku, sekali pun–andai kata-aku sampai di bunuh olehnya.”

Suatu hari, Gubernur Yazid memanggil para alim ulama ahli fiqih yang terkemuka di Iraq dan dikumpulkan di muka istananya. Di antara yang datang, ada Ibnu Abi Laila, Ibnu Syubramah, Dawud bin Abi Hind dan lain-lainnya. Mereka masing-masing lalu di beri pangkat (kedudukan) resmi oleh Gubernur. Tapi, Imam Hanafy tidak datang. Padahal, Sang Imam diberi jabatan tinggi, sebagai kepala “Tata Usaha” Gubernuran yang bertugas menandatangani semua surat-surat resmi yang keluar dan yang bertanggung jawab atas uang perbendaharaan negara yang di keluarkan dari Gubernuran. Semua surat resmi tidak akan dapat dilangsungkan keluar jika belum distempel (cap) dari tanda tangan beliau, dan uang dari perbendaharaan Negara (Baitul-Mal) tidak akan mungkin dikeluarkan sepeser pun, jika belum di tanda tangani (distempel) oleh beliau. Tetapi jabatan yang sepenting dan setinggi itu, tidak diterima oleh Imam Abu Hanifah.

Gubernur Yazid bersumpah: “Jika Abu Hanifah tidak sudi menerima angkatan ini, niscaya akan dipukul dia.” Para ulama yang mendengar sumpah Gubernur itu, lalu datang berduyun-duyun kepada Imam Hanafy untuk menyampaikan harapan mereka, supaya beliau bersedia menerima jabatan yang diberikan itu. Tapi, Sang Imam tetap kokoh dengan pendiriannya. Beliau tetap bersikeras menolak pengangkatan dari Gubernur itu. Akhirnya, sang Imam ditangkap dan dipenjara oleh polisi negara selama dua Jumat (dua minggu) dengan tidak dipukul. Kemudian – sesudah dua Jumat –baru dipukul/ di dera empat belas kali. Sesudah itu baru dibebaskan. Dalam riwayat lain dikatakan, suatu saat Imam Hanafy diangkat lagi oleh Gubernur Yazid bin Hurairah menjadi Qadli (Hakim) negeri di kota Kufah. Ttetapi dengan bersikeras ia tetap menolak. Karena itulah, ia ditangkap lagi dan dijebloskan ke dalam penjara.

Di dalam penjara -- karena ia tetap menolak pengangkatan itu – maka ia dijatuhi hukuman 110 kali cambuk. Hukuman itu dicicil, tiap hari 10 kali cambukan. Akhirnya, sang Imam dilepaskan kembali dari penjara sesudah merasakan 110 kali cambuk. Seketika keluar dari penjara, tampak kelihatan mukanya bengkak-bengkak, akibat bekas cambukan. Mengalami semua hukuman itu, Imam Hanafy hanya berucap: “Hukuman dunia dengan cemeti itu lebih baik dan lebih ringan bagiku daripada cemeti di akhirat nanti.”

Ujian kedua kepada Sang Imam datang pada tahun 136 Hijriah, dimasa Kepala Negara dijabat oleh Abu Ja’far Al-Manshur, saudara muda dari Abul Abbas As-Saffah, pendiri Bani Abbasiyah. Ketika itu Imam Hanafy berumur sekitar 56 tahun. Beliau dikenal sebagai orang besar yang gagah berani, ahli fikir yang hebat dalam memecahkan soal-soal yang bertalian dengan hukum-hukum agama.

Menurut riwayat, pada suatu hari Imam Hanafy mendapat panggilan dari baginda Al-Manshur di Baghdad. Sesampai di sana, ternyata sang Imam diangkat menjadi Hakim (Qadli) Kerajaan di Baghdad. Tawaran jabatan yang setinggi itu oleh beliau ditolak. Maka, Al-Manshur bersumpah dengan keras, bahwa ia harus menerima jabatan itu. Imam Hanafy pun juga bersumpah, tidak akan sanggup memegang jabatan itu. Sumpah itu terjadi berulang kali, sehingga seorang pegawai kerajaan mendekati Sang Imam dan berujar: “Apakah guru tetap menolak kehendak baginda, padahal baginda telah bersumpah akan memberikan kedudukan kepada guru?.”

Imam Hanafy dengan tegas menyatakan : “Amirul mu’minin lebih kuat membayar kifarat sumpahnya daripada saya membayar kifarat sumpah saya.”

Oleh karena Imam Hanafy tetap menolak jabatan dari Kepala Negara, maka ia ditangkap dan dimasukkan ke dalam penjara di Baghdad, sampai masa yang telah ditentukan oleh Kepala Negara. Perlu dijelaskan, bahwa pada masa itu ulama yang terkemuka di Kufah, ada tiga orang dan antara mereka itu ialah Imam Ibnu Abi Laila.

Menurut riwayat, pada suatu hari Imam Hanafy dikeluarkan dari penjara, karena mendapat panggilan dari baginda Al-Manshur. Baginda menyerahkan jabatan Qadli (Hakim) negara kepada Abu Hanifah. Tetapi, lagi-lagi ia tetap menolaknya. Baginda lalu kepada: “Adakah engkau telah suka dalam keadaan seperti ini?.”

Sang Imam menjawab: “Semoga Allah memperbaiki Amirul Mu’minin! Wahai Amirul Mu’minin, takutlah engkau kepada Allah, dan janganlah engkau bersekutu dalam kepercayaan engkau dengan orang yang tidak takut kepada Allah! Demi Allah, saya bukanlah orang yang boleh dipercaya di waktu tenang, maka bagaimana saya tidak sepatutnya diberi jabatan yang sedemikian itu!.”

Baginda berkata: “Kamu berdusta, karena kamu patut memegang jabatan itu!.”

Imam menjawab: “Ya Amirul mu’minin! Sesungguhnya baginda telah menetapkan sendiri, jika saya benar, saya telah menyatakan bahwa saya tidak patut menjabat itu, dan jika saya berdusta, maka bagaimana baginda akan mengangkat seorang Hakim yang pendusta? Di samping itu, saya ini adalah seorang maula yang dipandang rendah oleh bangsa Arab, dan bangsa Arab tidak akan rela diadili oleh seorang golongan maula seperti saya ini.” Karena tetap menolak, sang Imam dijebloskan kembali ke dalam penjara.

Ada riwayat yang menyebutkan, Abu Ja’far Al Manshur memanggil Imam Abu Hanifah, Imam Sufyan Ats Tsauri dan Imam Syarik An Nakha’y untuk datang menghadap di hadapan baginda.

Setelah mereka bertiga menghadap, masing-masing diberi kedudukan dan diberi surat pengangkatan.

Kepada Imam Sufyan baginda berkata : “Ini penetapan engkau untuk menduduki Qadli di kota Bashrah maka itu berangkatlah ke sana!” , dan kepada Imam Syarik baginda berkata : “ Ini penetapan engkat untuk menduduki Qadli ibu kota saya dan sekitarnya, maka itu laksanakanlah !” Adapun Imam Abu Hanifah tidak mau menerima jabatan apapun. Baginda memerintahkan kepada pengawalnya, agar mengantarkan mereka ke tempat masing-masing, dan berkata pula kepada pengawalnya : “Barangsiapa menolak jabatan yang telah saya berikan ini, maka pukullah dia seratus kali pukul dengan cemeti.”

Imam Syarik menerima jabatan itu, dan Imam Sufyan lalu melarikan diri ke Yaman, dan Imam Abu Hanifah tidak mau menerima jabatan dan tidak pula melarikan diri. Sebab itu ia tetap dimasukkan ke dalam penjara dan dijatuhi hukuman seperti yang telah diperintahkan oleh baginda Al Manshur. Yakni, setiap pagi, di dalam penjara, ia dicambuk dan leher sang Imam dikalungi dengan rantai besi yang berat.

Ada riwayat yang menyebutkan, al-Manshur pun pernah menggunakan jasa Ibu Abu Hanifah yang berusia lanjut untuk membujuk anaknya, agar bersedia menerima tawaran jabatan yang diberikan Kepala Negara. Pada setiap pagi, sang Ibu datang membujuk anaknya. Tetapi segala macam bujukan dan daya upaya sang ibu tadi senantiasa ditolak dengan keterangan yang baik.

Pada suatu hari sang ibu pernah berkata kepada anaknya: “Wahai Nu’man! Anakku yang kucintai! Buanglah dan lemparlah jauh-jauh pengetahuan yang telah engkau punyai itu. Karena tidak ada lain yang kau dapati selama ini, melainkan penjara, pukulan, cambuk dan rantai besi itu.!”

Perkataan sang Ibu yang sedemikian itu, hanya dijawaboleh sang Imam dengan lemah lembut dan senyuman manis: “Oo, ibu! Jika saya menghendaki akan keridhaan Allah SWT seemata-mata dan memelihara ilmu pengetahuan yang telah saya dapati, saya tidak akan memalingkan pengetahuan yang selama ini saya pelihara kepada kebinasaan yang dimurkai oleh Allah SWT.

Demikianlah, sang Imam tetap gigih dalam pendiriannya, meskipun harus menghadapi hukuman yang sangat memilukan. Setiap pagi, ia selalu menerima hukuman seberat itu. Tapi, al-Manshur tidak puas dengan hukuman yang dibjatuhkannya. Maka, suatu ketika, Imam Hanafy dipanggil oleh baginda supaya menghadapnya. Kemudian ia ia datang menghadap. Ketika itulah sang Imam disuguhi segelas minuman beracun. Tak lama, sesudah kembali ke dalam penjara, sang Imam menghadap kepada Allah SWT. “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un!.”

Beliau wafat di usia 70 tahun. Wafat di penjara, dalam kehidupan yang ia pi8lih sendiri, karena menolak jabatan yang ditawarkan kepadanya.

Hasan bin Imarah, yang memimpin prosesi pemandian jenazah sang Imam, berkata: “Mudah-mudahan Allah mengasihani engkau dan mengampuni semua kesalahan engkau, wahai orang yang senantiasa merasakan lapar selama tiga puluh tahun! Demi Allah, sesungguhnya engkau seorang yang menyusahkan orang banyak di masa kemudian engkau!.”

Tentu, sikap sang Imam memamg sangat luar biasa. Ia tidak tergoda oleh kekuasaan. Bahkan rela menerima hukuman ketimbang memegang jabatan tinggi yang ditawarkan padanya. Ia tidak gila jabatan. Sang Imam bersyukur dan bangga dengan kedudukannya sebagai seorang berilmu. Beliau tidak mengharamkan jabatan itu. Tetapi, beliau enggan menerima jabatan itu untuk dirinya.

Sepanjang riwayat yang boleh dipercaya, bahwa ketika telah merasa bahwa dirinya akan sampai ke ajalnya, sang Imam bersujud kepada Allah. Seketika itu wafatlah beliau dalam bersujud dengan khusyu’nya. Jenazahnya kemudian dimakamkan di pemakaman Al-Khaizaran, Baghdad.

Semoga kita dapat mengambil hikmah dan teladan dari Kisah Sang Imam Abu Hanifah! Islam tidak mengharamkan jabatan dan harta. Tetapi, Imam Abu Hanifah memberikan keteladanan, bahwa dunia adalah hal ”remeh” di matanya. Akhirat adalah kehidupan dan tujuan yang hakiki. (Disarikan dari buku Biografi Empat Serangkai Imam Mazhab karya K.H. Moenawar Cholil (Jakarta: Bulan Bintang, cet. kesembilan, 1994)). [Depok, 7 Desember 2009/www.hidayatullah.com]

Catatan Akhir Pekan [CAP] adalah hasil kerjasama Radio Dakta 107 FM dan www.hidayatullah.com

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

USWAH - Merindukan Pemimpin "Pelayan"

Masih adakah hari ini pemimpin yang melayani ummat? Yang mendahulukan kewajiban sebelum menuntut hak?


Oleh: Shalih Hasyim

Konon, ada sebuah riwayat salafus shalih (pendahulu kita yang shalih), di dalamnya mengandung pelajaran moral yang masih tetap relevan untuk diangkat pada realitas sosial kehidupan kontemporer, sebagai upaya untuk memberikan pembelajaran bagi ummat Islam khususnya dan ummat manusia umumnya. Ini berkaitan dengan spirit service oriented (etos pelayanan) dari kisah Umar bin Khathab yang sangat dikenal di kalangan kaum muslim.

Suatu malam, sebagaimana agenda rutinnya untuk turba --turun kebawah--  khalifah Islam kedua itu berjalan menyusuri setiap  lorong-lorong kota Madinah. Beliau mendengar tangis seorang anak yang kelaparan, tapi ibunya tidak memiliki sesuatu untuk dimakan. Dia terpaksa memasak batu untuk menghibur anak-anaknya sekadar menghentikan tangisannya. Sebagai pemimpin kaum Muslim, hati Umar bin Khathab merasa amat terpukul karena ada warganya yang tidak memiliki persediaan makanan sehingga anaknya menangis karena kelaparan. Maka, khalifah bergegas pergi mengambil bahan makanan dan mengantarkannya sendiri kepada keluarga janda yang sedang menderita. Sebagai pemegang kekuasaan tertinggi, khalifah dengan senang hati bertindak menjadi pelayan ummat (khadimul ummah) dalam arti sebenar-benarnya.

Pebisnis yang sukses adalah yang berhasil menomorsatukan konsumen. "Konsumen adalah raja," demikian istilah para pedagang dan prinsip pemasaran. Pemimpin sejati, adalah yang memiliki keterampilan melayani rakyatnya. Guru yang baik adalah guru yang selalu ngopeni  (merawat, red) dan memudahkan murid menemukan kebenaran (ba'atsani mu'alliman muyassaran). Orangtua yang baik adalah yang siap berkorban untuk anaknya. Bukan mengorbankan anaknya untuk kepentingan dirinya. Yang jelas, profesi apapun disyaratkan adanya kualitas pengabdian dan pelayanan.

Ada ungkapan ahli pendidikan yang terkenal, qaddimil khidmah qablal 'ilmi  (dahulukan pengabdian (komitmen) sebelum ilmu (kompetensi). Komitmen memerlukan pelatihan secara berkesinambungan (riyadhah), sampai menjadi kebiasaan yang mendarah daging, sedangkan kompetensi semua orang bisa mempelajarinya secara formal.

Khalifah Umar ra adalah sosok pemimpin yang memiliki kepekaan sosial yang tinggi. Di antara ungkapan beliau yang terkenal adalah sayyidul qaumi khadimuhum  (pemimpin kaum di antaranya diukur dari mutu pelayanannya). Bukan khadi'uhum (pandai menipu mereka). Bahkan, apabila ada salah seorang warganya yang mengeluhkan pola kepemimpinannya, beliau selalu bermuhasabah diri, hingga tidak bisa memejamkan mata semalam suntuk.

Selain itu, ada pula ungkapan beliau yang terkenal. Ketika memandang keluhan rakyat, kesalahan itu selalu dialamatkan dirinya sendiri rahimallahu  abdan 'arafa haddahu fawaqafa  indahu  (semoga Allah merahmati hamba-Nya yang menyadari keterbatasan dirinya dan ia berhenti sejenak di situ). Bahkan kritikan yang paling tajam pun dipuji dengan baik, ketika ia ditanya oleh rakyatnya tentang dua jubah yang dipakainya, sementara yang lain hanya menggunakan satu jubah. Ia justru berdoa, "Segala puji bagi Allah yang memberikan hadiah kepadaku dengan menunjukkan cacatku." . Anaknya Abdullah bin Umar, kemudian memberikan kesaksiaannya di hadapan publik bahwa baju yang dipakainya merupakan bagiannya yang sah diberikan kepada ayahnya karena kebesaran badan. Karena, satu jubah hanya cukup menutup sebagian tubuh Umar ra.

Beberapa Ibrah 

Pada umumnya ketika kita membaca kisah Umar ra, apresiasi kita berhenti sampai di sini. Cerita sebagai pengantar tidur. Kita hanya kagum terhadap keshalihan khalifah karena perhatiannya yang besar terhadap orang kecil serta kerelaannya meninggalkan baju dan gengsi kekhalifahan, sehingga bersedia mengantarkan sendiri bantuan kepada rakyat yang sedang lapar.

Kita jarang bertanya mengapa khalifah yang dijuluki Al-Faruq (pembeda antara haq dan batil) ini memiliki etos pelayanan yang demikian tinggi?

Secara spekulatif, setidaknya ada beberapa alasan yang bisa dijadikan ibrah (pelajaran) dan 'ubur (jembatan menuju puncak sukses) dari pertanyaan di atas.

Pertama, Umar ra selalu menghayati dan mengamalkan ayat kelima dari Surat Al-Fatihah. Firman Allah Swt yang menjadi ummul kitab (induk Al-Quran) ini yang mengajarkan prinsip penting dalam kehidupan masyarakat Al-Fatihah, yakni mendahulukan kewajiban sebelum menuntut hak. Menduduki posisi apapun berorientasi amal shalih, bukan semata-mata untuk meraih jabatan itu (sepi ing pamrih rame ing gawe, Jawa). Jabatan hanya sebagai lahan aktualisasi pengabdian, bukan tujuan akhir. "Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan." (QS. Al-Fatihah : 5).

Kedua, Umar ra menyadari betul bahwa kekuasaan yang ada di tangannya adalah amanat vertikal sekaligus horizontal, kata politikus Islam Imam Mawardi. Di samping bertanggungjawab kepada Allah Swt, juga untuk membangun kesejahteraan seluruh umat manusia dan harus ditunaikan secara penuh (full time). Tidak setengah-setengah. Ketika diangkat menjadi khalifah, ia memahami bahwa mengurusi manusia (ra'in) akan dihadapkan masalah yang  tidak akan pernah selesai. Sampai manusia kembali kepada-Nya. Ketika manusia lahir dalam keadaan menangis, mengisyaratkan bahwa menjalani kehidupan yang lurus itu tidak mudah dan tidak sederhana.

Kualitas kepemimpinan/ketokohan seseorang tidak ditentukan oleh katsratur riwayah (banyaknya meriwayatkan, berpidato), tetapi katsratur ri'ayah wal istima' (banyak melayani dan banyak mendengar).
الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ أُوْلَئِكَ الَّذِينَ هَدَاهُمُ اللَّهُ وَأُوْلَئِكَ هُمْ أُوْلُوا الْأَلْبَابِ
"Sebab itu sampaikanlah berita itu kepada hamba-hamba-Ku, yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya [Al-Quran]. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal." (QS. Az-Zumar (39) : 17-18)

Ungkapan ahli sastra Arab yang cukup akrab di kalangan komunitas santri:

اِذَا حَمَلْتَ اِلَىَ الْقُبُوْرِ جَناَزَةً فاَعْلَمْ بِأَنَّكَ مَحْمُوْل
وَاِذَا وُلِّيْتَ أُمُوْرَ قَوْمٍ فاَعْلَمْ بِأَنَّكَ مَعْزُوْل

"Apabila engkau membawa keranda ke kuburan, ketahuilah bahwa engkau akan digotong. Dan apabila engkau diserahi (dititipi) urusan oleh kaum, sadarilah suatu saat engkau akan dimakzulkan (dilengserkan), jika kurang amanah."

Ketiga, kualitas keimanan Umar ra yang sangat tinggi tidak pernah melupakan isi surat Al-Maun yang memberi ukuran/standar bahwa siapapun muslim, dalam standar sosial apapun, yang mengabaikan terhadap anak yatim dan fakir miskin adalah pendusta agama.

Islam tidak sekedar kaya seremonial, tetapi miskin aplikasi. Islam menghendaki pemeluknya agar shalih secara ritual, berefek pada shalih sosial. Iman tidak sebatas kepercayaan yang abstrak, tetapi sekaligus membumi. Iman yang tidak melahirkan amal, sama jeleknya dengan amal yang tidak didorong oleh iman. Tidak masuk surga orang yang kenyang, tetapi tetangganya dalam kondisi kelaparan (Al-Hadits). Bukti kedekatan seseorang kepada Allah Swt, salah satu indikatornya adalah dicintai orang lemah. Itulah pribadi Umar ra.

Keempat, Umar ra tidak pernah melupakan hadits qudsi yang menjelaskan bahwa seseorang sudah layak masuk neraka karena dia tidak menjenguk tetangganya yang sakit. Dengan penafsiran yang luas, sakit bisa juga bermakna lapar, teraniaya, menganggur, teralienasi, termarginalkan secara kekuasaan dan ekonomi, dan lain-lain. Ketika Nabi Musa as pergi untuk miqat (bertemu Allah Swt untuk menerima wahyu), dia bertanya kepada-Nya, "Ya Allah, di manakah aku mencari-MU? Allah Swt menjawab,  "Carilah Aku di tengah-tengah orang yang hatinya terluka."
Kelima, ini yang terpenting dan jarang menjadi bahan renungan kita. Meski dalam posisi sebagai khalifah, Umar ra tetap berwatak tawadhu' (rendah hati). Tidak merasa lebih terhormat dan lebih penting dari siapapun atau orang lain semiskin apa pun. Betapapun melimpah kekayaan, tinggi kedudukan dan jabatan, serta luasnya ilmu seseorang, sesungguhnya dia secara permanen adalah hamba Allah Swt ('abdullah). Logika dan rasanya memang demikianlah sosok pemimpin sejati, negarawan. Bukan pejabat dan penguasa.

Keenam, beliaulah yang mengajarkan kepada kita sikap mental mawas diri. Memiliki kecerdasan spiritual yang tinggi, sehingga terampil dalam mencermati kelemahan dirinya sebelum meneliti sisi gelap orang lain. Salah satu statemennya yang terkenal adalah berikut.

 حاَسِبُوْا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوْا , وَزِنُوْ أَعْماَلَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُوْزَنَ عَلَيْكُمْ , وَتَهَيَّؤَا لِلْعَرْضِ الأَكْبَرِ وَيَوْمَئِذٍ لاَ تَخْفَى مِنْكُمْ خاَفِيَةٌ

"Introspeksilah diri kalian sebelum segala perbuatan kalian diperhitungkan. Timbanglah amal kalian (di dunia ini) sebelum amal kalian ditimbang (di akhirat). Persiapkanlah diri kalian untuk menghadapi pembeberan amal kalian. Pada hari itu, amal kalian akan dibeberkan (semua), tidak ada yang ketinggalan walau sesamar apa pun."� (HR. Imam Ahmad).

Ketujuh, meneledani pola pelayananan yang dilakukan seniornya, Abu Bakar ra. Suatu ketika setelah Abu Bakar ash-Shiddiq ra. diangkat menjadi amirul mukminin, dia berpapasan dengan seorang wanita tua yang menyindirnya, "Oh mana mungkin Abu Bakar mau menolongku memerah susu kambing. Kini dia telah menjadi pemimpin umat."�

Abu Bakar menjawab, "Tidak, aku tetaplah Abu Bakar yang selalu ingin melayani." Kemudian khalifah Islam I ini memerah susu kambing dan diserahkannya kepada wanita tua tersebut.

Efek dari Kesadaran TauhidBagaimanakah bisa terjadi Umar ra yang kelak akan dibangkitkan bersama Abubakar dan Rasulullah Saw di akhirat kelak, bisa demikian rendah hati (tawadhu'), sehingga rela menjadi pelayan orang miskin, Apakah landasan hukumnya?

Menurut pendapat penulis, kerendahan hati Umar ra terutama efek (atsar) dari  kesadaran syahadat tauhid yang kokoh dan fungsional. Syahadat adalah kesaksian yang diberikan seseorang atas kebenaran keesaan Allah Swt. Bahwa tiada ilah yang eksis secara hakiki (wajibul wujud) selain Allah Swt. Ketika bersyahadat, dia hanya mengakui Penguasa Tunggal dalam kehidupannya, yaitu Allah Swt. Penguasa yang lain hanya sebagai bayangan wujud-Nya. Apa yang bisa kita dengar, kita lihat, kita cicipi, kita cium dan kita raba, wujudnya adalah nisbi (mumkinul wujud). Kita mentaati seseorang jika ia tunduk kepada Allah Swt dan mencintai-Nya

Kita berulang kali membaca kalimat thayyibah tersebut. Dan kita meyakininya dalam taraf tertentu, kita bahkan bisa membenarkannya secara kognitif dan nalar. Tetapi, berhenti di sini, titik. Jarang di antara kita mencapai pada level yang lebih jauh. Umar ra agaknya berbeda dengan kita. Beliau tidak berhenti pada pemahaman syahadat secara logika saja. Beliau pada haqqul yaqin atas keesaan-Nya serta kemutlakan-Nya dengan hati, membenarkan-Nya dengan nalar, dan menghayati serta mengaktualisasikannya menjadi akhlaq dan perilaku. Iman sama pentingnya dengan akhlaq. Iman sebagai sumbernya, akhlaq sebagai buahnya.

Bagaimana mungkin orang yang telah bersyahadat dengan benar, namun merasa dirinya lebih penting, lebih mulia, lebih terhormat di hadapan orang lain? Bukankah perasaan tagha (lebih) menjadi indikator kesombongan alias penuhanan diri dalam hati orang tersebut?

Dengan kesadaran tauhid yang utuh, Umar ra memanggul sendiri dan mengantarkannya bantuan makanan kepada seorang janda miskin. Ini etos pelayanan (khidmah) dari seorang yang menghayati makna syahadat secara konsisten. Pelayanan seperti ini berasal dari iman yang sangat mendalam, dan tidak bernuansa politis dan komersial seperti yang banyak terjadi pada akhir-akhir ini.

Dalam pandangan Umar ra, si janda miskin itu adalah salah satu chek point bagi siapa saja yang mau berjalan menuju surga. Atau dia mempersepsikan bahwa mereka yang fakir karena miskin struktural dan fakir karena kultural adalah komunitas yang dikirim oleh Allah Swt kepada kita sebagai alamat-Nya.

Maka, melayani kaum dhu'afa dan mustadh'afin adalah ibadah kongkrit yang paling berharga, dan sayangnya hanya bisa dilakukan dengan kemurnian niat oleh mereka yang menghayati makna syahadat secara benar dan diamalkan secara istiqamah. Hanya dengan syahadat yang penuh dengan pengorbanan jihad (fisik), ijtihad (akal), dan mujahadah (hati) yang sukses membangun etos pelayanan Islami.

Kita berdoa di bumi pertiwi ini lahir pemimpin yang amanah, jika tidak semoga Allah Swt memberikan pelajaran kepadanya, atau memperpendek umurnya. Mudah-mudahan ada yang bisa kita maknai dan kita nikmati dari kisah Umar bin Khathab ra. di atas. [Kudus, Januari 2010/www.hidayatullah.com]

Penulis adalah kolumnis www.hidayatullah.com

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

USWAH - Pejabat, Fasilitas, dan Teladan Umar

Pejabat itu bertugas untuk mendahulukan kesejahteraan orang-orang yang dipimpinnya. Tapi, pada umumnya, itu tak terjadi di negeri ini. Adakah teladan yang bisa kita tiru?

Oleh M. Anwar Djaelani

Fasilitas! Sangat mungkin, aneka fasilitas menggiurkanlah yang mendorong banyak orang berlomba-lomba ingin menjadi pejabat (publik) di negeri ini. Lihat saja contoh “paling akhir”: baru bekerja sekitar dua bulan, para menteri (plus sejumlah pejabat tinggi lain) mendapat fasilitas mobil dinas baru yang disebut-sebut berharga Rp. 1,3 M.

Sebelum ini, dalam sebuah media, Menteri Komunikasi dan Informatika Tifatul Sembiring menyatakan bahwa untuk simbol-simbol negara, menggunakan uang negara untuk membeli mobil (dinas) yang bagus semestinya tidak dipersoalkan. Lebih jauh, kata Tifatul, "Nggak ada masalah, toh uangnya ada kan?" Bahwa impor mobil itu dianggap bermasalah, dia mengaku tidak tahu. "Kalau itu tanya kepada Menteri Sekretaris Negara." (vivanews.com/ 4/1/2010).

Pernyataan Tifatul di atas sungguh memprihatinkan. Dia seolah-olah lupa dengan jargon yang sebelumnya sering dikampanyekannya: “Bersih dan Peduli”. Dia tampak acuh tak acuh dengan fakta bahwa mobil dinas Toyota Crown Royal Saloon yang sedang ramai  dibicarakan itu berharga sekitar Rp. 1,3 M. Dengan ringan dia bilang, "Nggak ada masalah”. Lupakah Tifatul pada data Badan Pusat Statistik yang menyebutkan jumlah penduduk miskin di Indonesia per Maret 2009 adalah 32,53 juta jiwa?

Para pejabat yang menerima mobil dinas itu layak untuk, pertama, menyimak penilaian Indonesia Corruption Watch (ICW) bahwa pembelian mobil dinas Rp 1,3 M melanggar Peraturan Menteri Keuangan (Menkeu) sehingga sudah sepantasnya pengadaan mobil itu dibatalkan. "Berdasarkan Peraturan Menkeu No 64/PMK.02/2008 tentang standar biaya umum APBN 2009 tertanggal 29 April 2008, jumlah anggaran maksimal untuk pengadaan mobil pejabat negara Rp 400 juta per unit. Jadi harus dibatalkan," kata Wakil Koordinator ICW Emerson Yuntho (www.detiknews.com 04/01/2010).

Kedua, merenungkan kalkulasi berikut ini. Menurut anggota Indonesia Budget Center, Roy Salam, sebenarnya dana pengadaan satu mobil itu, bisa digunakan untuk beasiswa bagi masyarakat. "Harga satu mobil itu dapat membiayai 2.300 siswa SMP selama satu tahun," ujar Roy (www.vivanews.com 31/12/2009).

Ketiga, perlu kiranya meniru langkah Wakil Ketua DPD Laode Ida yang mengembalikan mobil dinasnya Toyota Crown Royal Saloon ke pemerintah karena dinilai terlalu mewah  (www.detiknews.com 4/1/2010).

Dicari, Teladan

Negeri ini sangat memerlukan pemimpin yang bukan saja kapabel, tapi juga kredibel. Sebab, –sekarang dan ke depan- kita berada di sebuah dunia yang makin sarat tantangan. Hal yang demikian, jelas tak memadai jika negeri ini tak dikelola oleh rezim kredibel, yang didukung penuh oleh rakyat.

Kredibilitas terkait dengan –antara lain- keteladanan. Kredibilitas bergantung kepada satunya kata dan perbuatan. Sayang, justru di aspek ini, performa rata-rata pemimpin kita menyedihkan.

Negeri ini, miskin pemimpin berkategori teladan. Perhatikanlah, misalnya: Cukup sering pemimpin/pejabat meminta rakyat untuk berhemat, dan hal yang sama diinstruksikan pula kepada pejabat (di level yang lebih bawah). Misal, pernah ada seruan untuk menggunakan fasilitas negara secara proporsional. Tapi, ternyata, seruan ini tak disertai contoh yang memadai dari sang pemimpin/si penyeru.

Jika keteladanan tak bisa kita berikan, apa bedanya dengan situasi di ‘masa lalu’? Pemimpin bilang, dahulukan kepentingan rakyat! Tapi, ketika sang pemimpin punya kepentingan, rakyat terkorbankan oleh kepentingan dia. (Sekadar contoh ‘kecil’, pernah mobilitas keseharian rakyat terganggu, karena jalanan macet akibat resepsi yang diselenggarakan keluarga pejabat). Padahal, dalam perspektif agama (Islam), sungguh berat ancaman bagi orang tak sama antara perkataan dengan perbuatannya. “Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan” (QS Ash-Shaff [61]: 2-3).

Kita butuh pemimpin kredibel, yang memiliki rasa malu jika berbuat salah, dan tak malu mengaku salah jika memang salah. Dalam perspektif Islam, rasa malu dan iman ibarat dua sisi dari sebuah mata uang. Jika salah satu tak ada, maka ikut lenyap pula-lah yang satunya. Kita malu, jika ucapan kita tak sama dengan perilaku kita. Pemerintah berjanji memberantas korupsi, tapi rakyat tak menemukan cukup bukti.

Sungguh tak bermanfaat semua pembangunan itu, jika di dalam perencanaan, pelaksanaan, dan pemanfaatannya, melupakan aspek pencapaian kesejahteraan rakyat. Sungguh, kita zalim, jika dalam pembangunan itu, kita menghambur-hamburkan uang negara. Kita sewenang-wenang, jika atas nama pembangunan, mengerjakan sesuatu sekadar menyenangkan segelintir pejabat saja, dan sama sekali mengabaikan usaha-usaha pemenuhan kebutuhan dasar rakyat. Ketahuilah, itu membelakangi amanat.

Sebagai “gugatan” terakhir, kapan pemimpin/pejabat kita berhenti memikirkan dirinya sendiri dan lalu lebih sigap memikirkan kesejahteraan rakyatnya?

Tak perlu “gugatan” di atas dijawab secara reaktif. Cukup kiranya, jika kita mengajak nurani kita masing-masing untuk memandu agar dapat ‘menghayati’ sekumpulan jeritan hati tersebut.

Cermin Umar

Bagi siapapun, bercermin ke orang shalih sangat dianjurkan. Khusus bagi para pemimpin/pejabat, dalam hal sosok pemimpin/pejabat yang amanah, maka Khalifah Umar bin Abdul Aziz RA adalah salah satu contoh terbaik yang patut diteladani. Mengapa?

Umar bin Abdul Aziz RA mewarisi darah dan tipologi Khalifah Umar bin Khaththab RA.  Sebagaimana Umar bin Khaththab RA, sang cicit –yaitu Umar bin Abdul Aziz RA- adalah seorang pemimpin yang berpegang teguh pada amanah.

Dia memangku jabatan khalifah (sebuah jabatan yang sesungguhnya jika bisa, dia tak ingin mendudukinya) dalam usia relatif muda, 35 tahun. Keadilan dan kebijaksanaan dari pemimpin yang disebut-sebut sebagai Khulafaur Rasyidin kelima ini terasakan oleh rakyat secara menyeluruh. Keshalihannya sebagai seorang pemimpin/pejabat pantas diteladani.           

Sejarah bersaksi atas langkah dia dalam mewujudkan pemerintahan (baru) yang bersih. Gebrakan pertamanya, adalah mengembalikan semua harta dan atau tanah rakyat yang diambil oleh pemerintahan (Bani Umayyah) sebelumnya, yang diambil melalui tekanan kekuasaan kepada para pemiliknya. Jika pemilik tanah dan atau harta sudah tidak diketahui lagi, maka tanah harta dan atau harta itu dikembalikan kepada Baitul Maal (Kas Negara), untuk digunakan bagi keperluan kaum muslimin.

Jika di era sebelum Umar bin Abdul Aziz RA, para pejabat kerap mendahulukan kepentingan pribadinya saat menjalankan tugas, maka Umar bin Abdul Aziz RA memperagakan hal yang sebaliknya. Implikasinya, di era Umar bin Abdul Aziz RA tidak ada kepentingan rakyat yang tidak diurus dengan baik, tidak ada kebutuhan rakyat yang tak terpenuhi.

Pemimpin seperti Umar bin Abdul Aziz RA adalah tipe pejabat yang yakin bahwa jabatan adalah amanah yang bakal dimintai pertangungjawaban kelak di “Hari ketika mulut terkunci, tapi tangan dan kaki berbicara dan bersaksi”.

Umar bin Abdul Aziz RA memberi contoh dengan cara memulai apapun dari dirinya sendiri. Lihatlah! Dia yang sebelumnya dikenal kaya raya yang antara lain ditandai dengan dimilikinya sejumlah rumah yang sangat bagus, kuda-kuda pilihan, baju-baju kualitas terbaik dan lengkap dengan minyak wangi kelas terpilih, serta dengan penghasilan tahunan 40.000 dinar. Tapi, ketika prosesi pelantikan khalihah, dia ubah semua model upacara yang menyedot uang rakyat. Dia tolak fasilitas mewah yang selama ini biasa diperoleh pejabat sebelumnya. Bahkan, begitu dia dilantik sebagai khalihah, dia langsug menyerahkan seluruh harta yang dimilikinya, ke Kas Negara.

Langkah terpuji itu diikuti serempak oleh para pejabat sehingga dengan gerakan yang dia lakukan, dalam tempo sekitar dua tahun, krisis ekonomi yang terjadi pada pemerintahan sebelumnya bisa diatasi. Lebih dari itu, distribusi kekayaan sedemikian merata sehingga tidak ada rakyat yang berstatus mustahiq lantaran tergolong fakir atau miskin. Pengentasan kemiskinan yang dia lakukan bukan sekadar retorika, karena memang benar-benar terjadi gerakan ekonomi pro-rakyat, yang dimulai dari ‘kalangan atas’ secara nyata.

Secara khusus, mari kita saksikan keteladanan Umar bin Abdul Aziz RA dalam memegang amanah. Suatu hari, datanglah seorang utusan dari salah satu daerah menemuinya. Utusan itu sampai di rumah Umar bin Abdul Aziz RA saat malam menjelang. Setelah mengetuk pintu, seorang penjaga menyambutnya. Utusan itu mengatakan, “Beritahu khalifah -Amirul Mukminin- bahwa yang datang adalah utusan gubernurnya.”

Penjaga itu masuk memberitahu Umar bin Abdul Aziz RA yang akan berangkat tidur. Umar bin Abdul Aziz RA-pun berkata, “Izinkan dia masuk”. Utusan itu masuk, dan Umar bin Abdul Aziz RA meminta menyalakan lilin besar. Umar bin Abdul Aziz RA bertanya kepada utusan tersebut tentang keadaan penduduk secara umum di wilayahnya, keadaan kaum muslimin, bagaimana perilaku gubernur, situasi harga-harga, masalah anak-anak, perihal pendidikan, dan hal-hal lain terkait persoalan umat. Apakah hak umat sudah ditunaikan? Apakah ada yang mengadukan hak-haknya yang tak ditunaikan?

Utusan itu pun menyampaikan segala yang diketahuinya tentang wilayahnya kepada Umar bin Abdul Aziz RA. Tak ada sesuatupun yang disembunyikannya. Semua pertanyaan Umar dijawab lengkap.

Utusan itu lalu balik bertanya, “Yaa Amirul Mukminin, bagaimana keadaanmu, keluargamu, seluruh pegawai, dan orang-orang yang menjadi tanggung jawabmu?

Mendapat pertanyaan seperti itu, Umar bin Abdul Aziz RA pun serta merta meniup lilin besar dan berkata kepada pembantunya, “Tolong nyalakan lampu kecil.” Lalu dinyalakanlah sebuah lampu kecil yang hampir-hampir tidak bisa menerangi ruangan karena cahayanya yang temaram. Umar bin Abdul Aziz RA lalu menjelaskan tentang keadaan dirinya, anak-anaknya, istrinya, dan keluarganya.

Rupanya, utusan itu sangat tertarik dengan ‘aksi’ yang telah dilakukan Umar bin Abdul Aziz RA, yaitu mematikan lilin besar. Dia bertanya, “Yaa Amirul Mukminin, saya melihat Anda melakukan sesuatu yang menarik." Umar bin Abdul Aziz RA paham dengan arah pernyataan sang tamu.

Umar bin Abdul Aziz RA berkata, “Wahai hamba Allah, lilin besar yang saya matikan itu adalah dibiayai Kas Negara. Jadi itu harta Allah, harta kaum muslimin. Ketika saya bertanya kepadamu tentang urusan warga di wilayah Anda, maka lilin besar itu patut dinyalakan karena untuk kemaslahatan umat. Tapi, begitu Anda membelokkan pembicaraan ke seputar pribadi saya, maka saya pun mematikan lilin besar yang dibeli dengan uang Kas Negara, dan menggantinya dengan lampu kecil milik saya”.

Subhanallah, benar-benar mengagumkan! Sedemikian besar kesungguhan Umar bin Abdul Aziz RA dalam menjaga amanah, termasuk menjaga Kas Negara.

Patut Ditiru

Kini, tugas kita adalah mematut-matut diri, sudahkah kita –terutama para pemimpin/pejabat- sedemikian hati-hati dalam menggunakan harta kekayaan rakyat?

Mari, berusaha untuk bisa meniru apa-apa yang telah diteladankan oleh Umar bin Abdul Aziz RA, cicit Umar bin Khaththab RA. [www.hidayatullah.com]

Penulis adalah dosen STAIL Pesantren Hidayatullah Surabaya
 

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Pengikut